Showing posts with label Bebek. Show all posts
Showing posts with label Bebek. Show all posts

Thursday, October 3, 2013

Kulineran Jakarta: Bebek Sedap Wangi & Soto Betawi Afung

Pancoran

Dulu wilayah ini adalah wilayah antah berantah bagi saya. Walaupun lama tinggal di Jakarta, tapi wilayah Jakarta Barat adalah wilayah yang tidak banyak (kalau tidak mau dibilang tidak pernah) saya jamah. Tapi sejak bertemu si sembiluan, justru sekarang tidak lengkap jalan-jalan saya ke Jakarta tanpa mampir ke wilayah unik di bilangan Glodok ini. Kali ini saya mencobai dua makanan. Keduanya ada di gang penuh makanan bernama Pancoran. Jangan salah dengan daerah bernama sama di daerah Jakarta Selatan. Yang ini ada di wilayah Kota. Dekat sekali dengan pusat pertokoan Glodok.

Bebek Sedap Wangi

Yang pertama adalah Bebek Sedap Wangi. Penjual makanan yang satu ini tidak neko-neko. Cukup berjualan a la gerobak dorong berbahan stainless steel, lalu nongkrong di salah satu titik gang ini. Yang mau makan di tempat, bisa duduk di meja dengan kursi plastik seadanya. Walau begitu rasa bebek Peking di sini memang enaknya bukan main. Selain itu, harganyapun murah meriah. Porsi 1/4 bebeknya bisa dinikmati berdua. Saat dihidangkan, bebek ini dilengkapi dengan potongan timun dan dua saus pencelup.

Soto Betawi Afung

Makanan kedua yang saya coba adalah soto Betawi Afung. Letaknya hanya sekitar lima langkah dari tempat makan sebelumnya. Di sini makanan berkuah khas Betawi ini disajikan hangat dengan pilihan isi: daging, babat, jeroan, atau campur. Aroma soto Betawi di tempat ini sungguh menggoda. Kuahnya kental, putih, gurih. Isinya (saya pilih yang campur) empuk dan nikmat di lidah. Sungguh pengalaman makan yang tidak mengecewakan!

Monday, January 10, 2011

Itik dan Makanan Laut

Saya sangat beruntung beberapa hari setelah liburan kantor di bulan Desember yang lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk mengikut seorang berpetualangan ke Kalimatan Selatan. Walau sebenarnya tujuan perjalanan ini bukan untuk berwisata, tentu saja menyicipi masakan lokal harus saya sempatkan dong!

Begitu kami tiba di bandara Syamsudin Noor, kami dibawa ke Rumah Makan Swarga di area Banjarbaru. Kurang lebih sekitar 20 menit dari bandara. Rumah Makan Swarga menggelar panggangnya tepat di depan jalan masuk sehingga begitu saya tiba di sana, pikiran saya (tanpa melihat menu): ITIK BAKAR!

Alhasil karena pengaturan rumah makan yang sedemikian rupa, 5 dari 6 kami memesan itik bakar dan hanya 1 yang berdeviasi memesan itik goreng dan tambahannya udang bakar! Untuk itik bakarnya agak sedikit alot, mungkin karena itu juga penyajiannya dipotong kecil-kecil untuk mempermudah penyantapannya.

Menurut pendapat saya, bumbu yang disiramkan di atas itik terlalu manis, bahkan jauh melebihi rasa manis kecap manis pada umumnya. Segitu manisnya, saya sempat berpikir kalau bumbu yang dituang itu mengandung sedikit arak.

Sedangkan untuk itik gorengnya, saya harus akui enak sekali. Lembut seperti daging ayam dan bumbunya masih menempel ke tulang-tulang ketika kita mengupaskan dagingnya. Alhasil saya tergoda untuk mengulum tulang-tulang itik tersebut.

Sedangkan untuk udang besarnya, saya tidak mampu berkata-kata. ENAK! Sepertinya udang digoreng sebentar, sebelum akhirnya dibakar dalam waktu yang singkat. Aroma bumbunya, rasa gurihnya dan kelembutan tekstur daging udang sampai warna udangnya membuat saya terdiam dan jika saja saya tidak ingat usia, mungkin saya akan memesan 3 porsi lagi.

Ada pepatah mengatakan jika perhentian pertama saja menyenangkan, kebayang dong perhentian-perhentian berikutnya? Pasti lebih seru! HEHEHEHE. 

Rumah Makan Swarga
Jl. A. Yani No. 4, Banjar Baru
Kalimantan Selatan
Phone: (0511) 477 2014

Monday, September 13, 2010

Bihun Bebek 75, Pluit

Saya tidak pernah melihat diri saya sebagai orang yang sulit dalam mengenyangkan perut. Saya bukan tipe pemilih, namun pada beberapa kesempatan tertentu selayaknya manusia pada umumnya, saya mempunyai keinginan-keinginan tertentu.

Seperti pada malam itu, saya tiba-tiba menginginkan bihun goreng dan saya teringat papan iklan Bihun Bebek di Pluit Sakti. Bihun Bebek 75 menyediakan 2 jenis bihun, bihun kuah dan bihun goreng sea food.

Bihun goreng sea food menurut saya biasa saja. Tidak istimewa, tetapi tidak buruk juga. Saya menikmati bihun gorengnya (yang mana kemungkinan besar didorong oleh rasa ingin yang mengebu-ngebu). Lauk bihun gorengnya terlalu sederhana menurut saya. Satu porsi bihun hanya terdapat 2-3 ekor udang, bakso ikan dan potongan-potongan gorengan bakso (antara ikan atau daging).

Lalu bihun kuah, berbeda dengan bihun goreng, bihun kuah ditemani oleh kuah yang dimasak dengan resep rempah-rempah yang biasanya dibeli di toko obat cina. Kuah yang unik ini, yang mana ibu saya suka sekali memasak kuah ini justru membuat bihun rebus bebek ini terasa istimewa, walau bihun berasa sedikit tawar dan kurang tajam, namun kuah yang istimewa ini membuat bihun ini begitu berbeda.

Bihun Bebek 75
Jl. Pluit Sakti Raya No. 49
Jakarta Utara
Phone: (021) 669 3980

Friday, May 7, 2010

Bebek Kaleyo

Setelah berkali-kali berusaha, akhirnya saya dan beberapa teman kantor menyempatkan diri untuk mengunjungi Bebek Kaleyo, di daerah Cempaka Putih. Tempat makan bebek goreng yang konon namanya sudah dikenal di mana-mana, bahkan salah satu pembawa acara kuliner TV lokal sempat mengunjungi tempat ini.

Jadi jangan heran saja, kalau bahkan sebelum tempat makan dibuka (pukul 5 sore,) sebagian tempat duduk rumah makan ini sudah dipenuhi oleh pengunjung-nya. 30 menit hingga satu jam setelah menerima pesanan pertama, sudah terlihat antrian orang-orang untuk mendapatkan tempat duduk.

Sore itu, saya dan teman-teman kantor datang sekitar 15 menit sebelum pukul 5 sore dan benar saja kami sama sekali diabaikan. Bahkan ketika kami menanyakan minum, mereka hanya menunjukan posisi chiller yang menandakan kalau kami harus melayani diri sendiri. Pas pukul lima, kami disambut dengan ucapan selamat datang yang lebih hangat dan yell-yell khas Kaleyo. Pengalaman yang seperti ini jarang saya temui di sebuah rumah makan.

Untuk benar-benar menghargai Bebek, saya mencoba mencari tahu beberapa fakta mengenai daging bebek itu sendiri:
  1. Daging bebek itu jauh lebih alot daripada daging ayam. Ada salah satu situs bahasa Indonesia yang menuliskan kalau ini diakibatkan karena bebek lebih banyak bergerak (termasuk berenang). HIHIHIHI. Cukup lucu, tapi mungkin ada benarnya.
  2. Kandungan lemak di daging bebek itu 3 kali kandungan lemak daging ayam biasa.
  3. Seperti kambing dan "wangi"-nya, daging bebek juga dikenal dengan bau amisnya.
Yah, saya yakin masih banyak fakta-fakta lain mengenai saudara dekat dari daging ayam ini. Berdasarkan fakta-fakta di atas, saya menyadari kalau mengelolah daging bebek itu tidak semudah daging ayam pastinya. Keberhasilan Kaleyo dalam melunakan daging bebek, tapi tidak sampai mengelupas dari tulangnya, sehingga berasa seperti menikmati daging ayam patut dipuji. Dan karena kandungan lemak yang lebih tinggi, daging bebek terasa lebih gurih dan pastinya tanpa bau amis.

Bebek goreng cabe ijo mungkin adalah menu umum di rumah makan yang khusus menyajikan bebek, tetapi cabe ijo Kaleyo yang begitu pedasnya (ditambah Kaleyo hanya dilengkapi dengan kipas angin tempel) seolah-olah saya baru saja ditampar dengan sandal jepit. Bibir saya seolah-olah bertambah tebal beberapa centimeter.

Oyah, patut dipuji juga gorengan tahu dan nasi uduknya. Baru saja 6 jam yang lalu, saya makan bebek itu, dan sekarang saya sudah kebayang lagi. Duh, pengen bebek lagi!

Bebek Goreng Kaleyo
Jl. Cempaka Putih Raya No. 108
Jakarta Pusat
Phone: (021) 95700022, 91919090